Jumat, 01 Juni 2012

PENYULUHAN REPRODUKSI TERNAK


BAB I
PENGELOLAAN REPRODUKSI
Text Box: Indikator keberhasilan : Setelah mempelajari bahan ajar ini secara spesifik peserta dapat menjelaskan tentang reproduksi, siklus berahi, kebuntingan,kelahiran dan gangguan reproduksi serta penanganannya.

 


A. PENDAHULUAN
Usaha peternakan di Indonesia sampai saat ini masih menghadapi banyak kendala, yang mengakibatkan produktivitas ternak masih rendah. Salah satu kendala tersebut adalah masih banyaknya gangguan reproduksi menuju kemajiran pada ternak betina.  Akibatnya, efisiensi reproduksi akan rendah dan kelambanan perkembangan populasi ternak.  Dengan demikian perlu adanya pengelolaan ternak yang baik agar daya reproduksi meningkat sehingga menghasilkan efisiensi reproduksi tinggi yang diikuti dengan produktivitas ternak yang tinggi pula.
Reproduksi merupakan proses yang majemuk pada setiap individu ternak. Reproduksi merupakan proses perkembangan suatu makhluk hidup yang dimulai sejak bersatunya  sel telur dan sel mani menjadi individu baru yang disebut zigot yang disusul dengan kebuntingan dan diakhiri dengan kelahiran.
Sapi  betina tidak hanya memproduksi sel kelamin yang sangat penting untuk mengawali kehidupan turunan yang baru, tetapi ia juga menyediakan tempat beserta lingkungannya untuk perkembangan individu baru .
Usaha peternakan di Indonesia sampai saat ini masih banyak menghadapi kendala yang mengakibatkan produktivitas ternak yang rendah. Hal ini ditengarai dengan banyaknya laporan dari peternak mengenai kasus gangguan reproduksi yang mengakibatkan kerugian yang besar terhadap pemilik ternak.
Setiap induk ternak yang dimiliki oleh peternak mempunyai tiga kemungkinan status reproduksi, yaitu :
1)      Berada pada kondisi kesuburan yang normal
2)      Kondisi kemajiran ringan atau infertile
3)      Kondisi kemajiran yang tetap (steril)
Ketiga status tersebut diatas tergantung pada baik atau tidaknya  tingkat pengelolaan reproduksi pada ternak. Bila suatu kawasan peternakan banyak menghadapi kasus gangguan reproduksi, ada beberapa parameter yang dapat dipakai sebagai acuan yang menyatakan bahwa wilayah tersebut terdapat gangguan reproduksi :

1.      Jarak antara beranak lebih dari 400 hari
2.      Jarak antara melahirkan sampai bunting kembali melebihi 120 hari
3.      Angka kebuntingan kurang dari 50 %
4.      Rata rata jumlah perkawinan perkebuntingan lebih besar dari dua
5.      Jumlah induk sapi yang membutuhkan lebih dari tiga kali IB untuk terjadinya kebuntingan melebihi 30 %.

  
Melihat betapa pentingnya proses reproduksi bagi suatu usaha peternakan bila mengingat bahwa tanpa adanya reproduksi, mustahil produksi ternak dapat diharapakan menjadi maksimal. Oleh sebab itu pengelolaan reproduksi merupakan bagian yang amat penting dalam suatu usaha peternakan.
 
Faktor  pengelolaan reproduksi meliputi :
1.      Pemberian pakan yang berkualitas dan cukup
2.      Lingkungan serasi yang mendukung perkembangan ternak
3.      Tidak menderita penyakit khususnya penyakit menular kelamin
4.      Tidak menderita kelainan anatomi kelamin yang bersifat menurun
5.      Tidak menderita gangguan keseimbangan hormone khususnya hormone reproduksi
6.      Sanitasi kandang yang baik.
Untuk mendukung keberhasilan pengelolaan reproduksi perlu juga dilaksanakan program kesehatan reproduksi meliputi :
1.      Meningkatkan keterampilan dan kesadaran beternak bagi para peternak
2.      Pemeriksaan secara tetap tiap bulan pada ternak betina oleh petugas kesehatan reproduksi
3.      Penilaian terhadap prestasi reproduksi induk.
4.      Pelaksanaan perubahan pengelolaan reproduksi menuju keuntungan yang lebih baik, yang meliputi :
a.       Penyediaan ransum pakan untuk induk yang sedang bunting dan laktasi
b.      Keserasian kondisi lingkungan untuk pertumbuhan ternak
c.       Deteksi Berahi yang tepat
d.      Waktu tepat kawin
e.       Pengelolaan yang tepat terhadap uterus pasca melahirkan.

B.     ANATOMI REPRODUKSI BETINA
Organ reproduksi pada sapi betina terdiri dari organ genitalia interna (ovarium,oviduk,uterus,cervix uteri dan vagina) dan organ genitalia eksterna (vestibulum dan vulva). Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang menghasilkan ova dan hormon-hormon kelamin betina. Sedangkan oviduk,uterus,cervix uteri,vagina dan vulva merupakan organ reproduksi sekunder yang berfungsi menerima dan menyalurkan sel-sel kelamin jantan dan betina,memberi makan dan melahirkan individu baru.
Gambar 1. Organ reproduksi sapi betina


OVARIUM
Berbeda dengan testis, ovarium tertinggal di dalam cavum abdominalis. Ia mempunyai dua fungsi, sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum dan sebagai organ endokrin yang mensekresikan hormon-hormon kelamin betina,estrogen dan progesteron. Ovarium sapi dan domba berbentuk oval.
Pada sapi ukuran ovarium bervariasi dengan panjang 1,3-5,0 cm, lebar 1,3-3,2 cm, dan tebal 0,6-1,9 cm. Ovarium kanan umumnya lebih besar daripada ovarium kiri, karena secara fisiologik dia lebih aktif. Berat ovarium juga bervariasi antara 10 sampai 20 gram.

OVIDUK (Tuba Fallopii)
Oviduk atau Tuba Fallopii merupakan saluran kelamin paling anterior, kecil, berliku-liku dan terasa keras seperti kawat terutama pada pangkalnya. Pada sapi panjangnya mencapai 20-30 cm dan diameternya 1,5-3,0 cm.
Gambar 3. Oviduk dan struktur yang mengelilinginya.



 











Fungsi oviduk adalah menerima atau menangkap sel telur yang diovulasikan.

UTERUS
            Uterus merupakan suatu struktur saluran muskuler yang diperlukan untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi, nutrisi dan perlindungan foetus, dan stadium permulaan ekspulsi foetus pada waktu kelahiran. Uterus teridiri dari cornua, corpus, dan cervix. Pada sapi, domba dan kuda mempunyai uterus jenis uterus bipartitus, terdapat suatu dinding penyekat (septum) yang memisahkan kedua cornua dan corpus uteri yang cukup panjang. Cornua uteri pada sapi dan domba berlekuk seperti tanduk domba jantan. Pada sapi dara setiap cornua uteri membentuk satu putaran spiral lengkap, sedangkan pada sapi-sapi pluripara (sudah sering beranak) spiral tersebut sering hanya mencapai setengah putaran.
            Pada batang uterus sapi memiliki 50 -100 kotiledon yang merupakan tempat bertautan plasenta pada dinding rahim, pada dinding rahim hewan yang tidak bunting panjang kotiledon 1,2 cm dan lebar serta ketebalannya kurang dari 1 cm. Sewaktu hewan bunting menjadi sangat membesar dan berliku dengan ukuran panjang mencapai 12,5 cm.
            Uterus mempunyai sejumlah fungsi penting. Pada waktu perkawinan, kerja kontraksi uterus mempermudah pengangkutan sperma ke oviduk. Sebelum implantasi, ia mengandung dan cairan uterus yang menjadi medium bersifat suspensi bagi blastocyt,dan sesudah implantasi uterus menjadi tempat pembentukan placenta dan perkembangan foetus.

CERVIX UTERI
            Cervix atau leher uterus merupakan suatu otot sphincter tubuler yang sangat kuat dan terdapat antara vagina dan uterus. Dindingnya lebih keras, lebih tebal dan lebih kaku daripada dinding-dinding uterus atau vagina, dan dinding cervix ditandai oleh berbagai penonjolan-penonjolan. Pada ruminansia penonjolan-penonjolan ini terdapat dalam bentuk lereng-lereng transversal dan saling menyilang, disebut cincin-cincin annuler. Cincin-cincin ini sangat nyata pada sapi (biasanya 4 buah) dan domba, yang dapat menutup rapat cervix secara sempurna. Cervix uteri berfungsi sebagai saluran yang memudahkan (dengan mukus cervixnya) sperma menuju lumen uterus, berperan menyeleksi sel sperma yang viable dari sel sperma yang non viable dan cacat/rusak,menutup dan menjaga kondisi uterus selama masa kebuntingan.
Gambar 5. Cervix uteri sapi


 





VAGINA.
            Vagina adalah organ kelamin betina dengan struktur selubung muskuler yang terletak di dalam rongga pelvis dorsal dari vesica urinaria, dan berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi foetus sewaktu partus.

ORGAN GENITALIA EKSTERNA           
            Alat kelamin luar terbagi atas vestibulum dan vulva. Vulva terdiri atas labia majora,labia minora,commisura dorsalis dan ventralis serta clitoris.                     
Vestibulum memiliki beberapa otot sirkuler atau seperti sphincter yang menutup saluran kelamin terhadap dunia luar. Selama partus vestibulum berfungsi sebagai tempat tumpuan pertautan bagi seluruh saluran kelamin yang berkontraksi sewaktu mengeluarkan foetus.
                       
C.     SIKLUS BERAHI
Produktifitas ternak tergantung langsunng maupun tidak langsung pada kemampuan reproduksinya. Ternak dengan kecepatan reproduksi tinggi, disertai seleksi yang baik dalam perkawinannya pasti akan meningkatkan produksi hasil ternaknya.
Target manajemen reproduksi pada suatu kelompok ternak :
1.      mendapatkan pedet yang sehat dari satu kelahiran pertahun
2.      meningkatkan mutu genetic pedet

Untuk meningkatkan efisiensi reproduksi :
1.      Penyembuhan uterus normal selama 6 minggu
2.      Penampakan tanda birahi dan recover ovulasi
3.      Deteksi birahi secara tepat dan peningkatan kebuntingan setelah IB
4.      Semen dengan kualitas baik di IBkan pada 12 – 18 jam sebelum ovulasi.

1.      Pubertas
Perkembangan dan pendewasaan alat kelamin dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah bangsa sapi dan manajemen pemberian pakan. Dalam kondisi pemberian pakan yang baik pubertas pada sapi betina dapat terjadi pada umur               5 – 15 bulan. Berat badan dan atau besar tubuh lebih penting daripada umur, sebab sapi yang diberi pakan rendah dua kali lebih tua daripada umur yang dicapai oleh sapi dengan tingkatan yang tinggi. Dimana bobot badan yang ideal untuk pubertas berkisar 227 – 272 kg pada umur rata – rata 15 bulan.
Sapi mencapai dewasa kelamin sebelum dewasa tubuh tercapai. Keterangan ini memberi petunjuk agar tidak mengawinkan sapi betina pada waktu munculnya tanda-tanda pubertas yang pertama, Karen jika mengawinkan terlalu cepat, maka sapi akan bunting dengan kondisi badan masih dalam proses pertumbuhan, maka tubuhnya harus menyediakan makanan untuk pertumbuhan dirinya dan anak dalam rahimnya.
Umur Pubertas (bulan)
Bangsa
Betina
Jantan
Kambing – Domba
7-10
4-6
Babi
4-7
4-8
Sapi
8-11
10-12
Sapi Brahman
15-18

Kuda
15-18
13-18








 
Waktu pubertas lebih dipengaruhi oleh perkembangan tubuh dibandingkan dengan umur
% Berat Badan Saat Pubertas
Sapi Perah
30-40% BB dewasa
Sapi Potong
45-55% BB dewasa
Kambing
40-60% BB dewasa

2.      Urutan Waktu Dalam Siklus Birahi
  1. Lama Siklus Birahi : 18 – 24 hari atau ± 21 hari
  2. Lama birahi : 6 – 30 jam atau rata – rata 17 jam, tergantung umur
Birahi mulai sore lebih lama 2- 4 jam daripada birahi pagi
  1. Waktu ovulasi : 9 – 15 jam setelah tanda birahi nampak.
  2. Birahi setelah beranak : 21 -80 hari atau rata – rata 60 hari sejak beranak.

3. Birahi / Estrus
Estrus adalah fase yang terpenting dalam siklus berahi, karena dalam fase ini hewan betina memperlihatkan gejala yang khusus untuk tiap-tiap hewan, dan dalam fase ini pula hewan betina mau menerima pejantan untuk kopulasi. Ciri khas dari estrus adalah terjadinya kopulasi. Jika hewan menolak untuk kopulasi, maka penolakan tersebut memberi pertanda bahwa hewan betina masih dalam fase proestrus atau fase estrus telah terlewat. Tanda lain yang umumnya mereka perlihatkan tanda gelisa, nafsu makan berkurang  atau hilang sama sekali, menghampiri pejantan dan tidak lari bila pejantan menungganginya. Dalam servic jumlah lendir maupun jumlah sekresi lendir dalam tiap-tiap kelenjar bertambah. Pada sapi lendir yang dihasilkan oleh service ini bersifat bening, terang tembus dan mengalir ke vagina. Vagina dan vulva pada jenis hewan tidak memperlihatkan banyak perubahan, hanya pada dara (betina yang baru pubertas) pada umumnya terjadi kebengkakan vulva serta perubahan vaskularisasi hingga warnanya agak kemerah-merahan dan selalu terlihat pada waktu estrus.Perubahan-perubahan seperti ini pada hewan betina dewasa yang telah beberapa kali beranak, sering tidak nyata.
Peternak atau petugas akan mudah melakukan deteksi birahi apabila memahami tanda – tanda birahi sapi terjadi serta kebiasaan rutin sapi tersebut. Oleh sebab itu perlu adanya pola rutin deteksi birahi :
  1. Deteksi 3 kali sehari yaitu pada pagi hari saat pagi, pada siang hari saat sapi dalam kondisi tenang / istirahat dan pada sore hari.
  2. Waktu pengamatan birahi dilakukan sesuai dengan siklus birahi yaitu setiap hari ke -19 -23 (rata – rata pada hari ke – 21) setelah birahi sebelumnya. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan bantuan kalender IB dan jika ada tanda – tanda segera lapor kepada petugas IB
  3. Petugas dapat melakukan palpasi rectal untuk mengetahu kondisi ovarium
Angka kebuntingan tertinggi atau waktu IB terbaik adalah 4 – 20 jam sejak awal birahi
5. Saat Yang Tepat Melakukan Inseminasi Buatan  Sapi
Dalam pelaksanaan di lapangan, baik inseminator maupun pemilik sapi sukar untuk dapat mengetahui saat dimulainya estrus, lebih-lebih saat ovulasi. Untuk memudahkan pelaksanaan, maka dibuat petunjuk umum yang dapat digunakan dengan mudah. Faktor yang terpenting dalam petunjuk tersebut adalah pengamatan terhadap berahi. Bila gejala berahi sudah terlihat maka saat inseminasi mudah ditentukan. Sehingga petunjuk praktisnya sebagai berikut, jika sapi terlihat berahi pada pagi hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada hari itu juga, sedangkan bila sapi terlihat berahi pada sore hari ini, maka inseminasi harus dilakukan pada esok harinya sebelum jam 12.00 siang.
PETUNJUK WAKTU MELAKUKAN I.B. PADA SAPI
Sapi terlihat berahi
Saat yang baik melakukan I.B.
Terlambat
Pada pagi hari ini
I.B. Hari ini juga
Ditangguhkan sampai besok
Sore atau malam hari
I.B. besok pagi sebelum jam 12.00 siang
Sesudah jam 12.00 esok harinya


BAB II
KESEHATAN REPRODUKSI

A. GANGGUAN REPRODUKSI DAN PENANGANANNYA
Gangguan Reproduksi Yang Biasa Terjadi Pada Sapi :
1. Birahi tenang (Silent Heat)
Birahi tenang atau birahi tidak teramati banyak dilaporkan pada sapi potong; sapi dengan birahi tenang mempunyai siklus reproduksi normal, namun gejala birahinya tidak terlihat. Birahi tenang akan mengakibatkan peternak tidak dapat mengetahui kapan sapinya birahi, sehingga tidak dapat dikawinkan dengan tepat.
Birahi tenang pada sapi  karena beberapa kemungkinan yaitu :
a. faktor genetis
b. manajemen peternakan yang kurang baik
c. defisiensi komponen-komponen pakan atau defisiensi nutrisi,
d.  kondisi fisik jelek, kebanyakan karena parasit interna (cacing),

2. Tidak birahi sama sekali (anestrus)
Tidak birahi sama sekali atau anestrus adalah keadaan dimana memang tidak terjadi siklus reproduksi, tidak ada ovulasi, sehingga tidak terjadi gejala birahi sama sekali.  Kasus anestrus pada sapi perah cukup banyak ditemui, umumnya terjadi setelah beranak. Anestrus pada sapi perah akibat defisiensi nutrisi umumnya berupa penurunan ovaria (hipofungsi ovaria) bisa mencapai 90% dan akibat adanya peradangan saluran reproduksi 10%.

3. Kawin berulang (Reapet Breeder)
Kawin berulang adalah induk ternak yang mempunyai siklus birahi normal dan gejala birahi yang jelas tetapi bila dikawinkan atau di inseminasi buatan berulang-ulang tidak pernah menjadi bunting.
Penyebab kawin berulang adalah:
  • Faktor kegagalan pembuahan (fertilization failure)
  • Faktor kematian embrio dini (early embrionic death)

Penanganan gangguan reproduksi dapat dilakukan sebagai berikut :
a.       Perbaikan kondisi tubuh, usahakan kondisi fisik (body condition score = BCS, skor kondisi tubuh = SKT) optimum untuk reproduksi, yaitu sekitar 3,0 dari suatu cara penilaian kondisi tubuh antara 1 (kekurusan) dan 5 (kegemukan).  Perbaikan kondisi tubuh dapat lebih cepat dibantu dengan perbaikan pemberian pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang cukup, dan pemberian obat cacing secara teratur (reguler).
b.      Intensifikasi pengamatan birahi individu sapi. Penanganan yang lebih sering, terutama pada waktu malam hari. Pengamatan birahi akan lebih mudah bila dimungkinkan untuk menjadikan sejumlah sapi-sapi betina yang berdekatan dalam satu kandang lepas besar atau dalam satu padangan untuk dilakukan inseminasi buatan atau kawin pejantan.
c.       Aplikasi sinkronisasi birahi dan ovulasi dengan mempertimbangkan perhitungan ekonomis.

B.     PENYEBAB GANGGUAN REPRODUKSI.
Gangguan reproduksi pada sapi potong disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1.    Cacat anatomi saluran reproduksi.
2.    Gangguan fungsional.
3.    Kesalahan managemen.
4.    Infeksi organ reproduksi.

1.      Cacat anatomi saluran reproduksi ini dibedakan menjadi 2 yaitu: cacat bawaan (Kongenital) dan cacat perolehan. Cacat bawahan sejak lahir dapat terjadi pada indung telur (Ovarium) dan pada saluran reproduksinya. Gangguan pada ovarium berupa indung telur mengecil (Hipoplasia ovaria) dan indung telur tidak terbentuk (Agenesis Ovaria).
Hipoplasia ovaria merupakan suatu keadaan indung telur tidak berkembang karena keturunan, apabila terjadi pada salah satu indung telur maka sapi akan menunjukan gejala Anestrus (tidak pernah birahi) dan apabila terjadi pada kedua indung telur maka sapi akan steril (Majir).
Cacat perolehan dapat terjadi pada indung telur, diantaranya perdarahan pada indung telur (Ovarian hemorrhagie) dan radang pada indung telur (Oophoritis), perdarahan pada indung telur terjadi karena efek sekunder dari manipulasi traumatik pada indung telur, dengan gejala sapi mengalami kawin berulang. Sedangkan oophoritis merupakan keradangan pada indung telur yang disebabkan oleh manipulasi traumatik / pengaruh infeksi dari tempat lain seperti infeksi pada saluran telur (Oviduk) atau infeksi rahim (Uterus), gejalanya sapi menjadi tidak pernah birahi (Anestur).
Sedangkan cacat perolehan pada saluran reproduksi antara lain: Radang pada Oviduk (Salphingtis), Kesulitan pada saat beranak (Distokia) dan tumor.
2.      Gangguan Fungsional.
Gangguan fungsional merupakan keadaan dimana organ reproduksi tidak berfungsi dengan baik adanya abnormalitas hormonal, contoh gangguan fungsional diantaranya:
a.       Sista Ovarium.
b.      Subestrus dan birahi tenang.
c.       Anestrus.
d.      Ovulasi tertunda.
3.      Kesalahan managemen.
Faktor managemen sangat erat hubungannya  dengan faktor pakan / nutrisi. Jika tubuh kekurangan nutrisi terutama untuk jangka panjang maka akan mempengaruhi fungsi reproduksi.
5.      Infeksi organ reproduksi.
Infeksi organ reproduksi dibagi menjadi dua yaitu infeksi non spesifik dan infeksi spesifik. Contoh infeksi non spesifik antara lain:
a.       Endometritis (radang Uterus)
Endometritis merupakan peradangan pada dinding rahim (Uterus) yang terkontaminasi oleh berbagai mikroorganisme (Bakteri) selama masa nifas (Puerpurium). Gejalanya antara lain: keluar cairan leleran berwarna putih sampai kekuningan yang berlebihan, uterus mengalami pembengkaan.
b.      Piometra (radang uterus bernanah).
Merupakan pengumpulan sejumlah cairan kekuningan dalam rongga rahim dan adanya corpusleteum persistensi, hal ini karena adanya isi terus yang abnormal.
c.       Vaginitis.
Merupakan peradangan pada Vagina, hal ini disebabkan oleh penanganan masalah reproduksi yang tidak tepat seperti tarik paksa / fetotomi.
Sedangkan infeksi yang bersifat spesifik antara lain:
a.       Brucellosis.
Penyebab Brucellosis pada sapi adalah Bakteri Brucella Abortus, bersifat Zoonosis, Brucella dapat menular melalui lendir alat kelamin, selaput lendir mata, makanan dan air minum yang tercemar ataupun melalui IB yang terinfeksi.
Gejala yang nampak yaitu biasanya sapi bunting mengalami keguguran pada 6 – 9 bulan kebuntingan.
b.      Leptospirosis.
Penyebabnya adalah bakteri leptospira pomona, cara penularannya melalui kulit terbuka, selaput lendir, karena kontak dengan makanan dan minuman yang tercemar, gejala yang nampak antara lain: Tidak mau makan (Anoreksia), produksi susu turun, keguguran pada pertengahan kebuntingan dan biasanya terjadi retensio plasenta.

2.      MASALAH REPRODUKSI LAINNYA.
Selain gangguan reproduksi yang disebabkan oleh faktor tersebut diatas, kondisi patologis yang berhubungan dengan masalah reproduksi anlaintara:
a.  Dobolen  (Prolapsus Uteri).
Merupakan kejadian terbaliknya Rahim, Vagina, dan servik, mengantung keluar melalui Vulva. Penyebabnya adalah ternak selalu dikandangkan, tingginya kadar hormon ertrogen, managemen pemeliharaan yang jelek.
b.  Kesulitan melahirkan (Distokia).
Merupakan suatu kondisi stadium pertama kelahiran (Dilatasi servik) dan kedua (Pengeluaran faetus) lebih lama dan menjadi sulit dan tidak mungkin lagi bagi induk untuk mengeluarkan faetus. Penyebabnya antara lain: Gizi buruk, Tatalaksana, infeksi, traumatik dll. Penanganannya antara lain: Mutasi, Penarikan Paksa, Pemotongan janin, Operasi secar. (Sumber materi Pelatihan BUDIDAYA SAPI. di Kec Tarokan Kab Kediri)


1 komentar:

  1. Bagus...materi yang menarik dan penting. Ijin Copas dan link. Trim.

    BalasHapus